Polemik Pemberitaan Pasca Persidangan Rohidin, Pemuda Lira Sebut Media Kompolmas Terlalu Tendensius
Bengkulu, BINTUHAN.ID- Pasca persidangan kedua eks Gubernur Bengkulu Rohidin Mersyah dan kawan-kawan beberapa waktu lalu menuai sorotan. Terutama hakim yang memberikan komentar dan mempertanyakan kenapa hanya tiga tersangka yang diajukan, sedangkan yang memberikan uang banyak. Hal itu sempat viral dan menjadi headline di berbagai media lokal bahkan nasional.
Namun, pemberitaan yang dilakukan oleh media online Kompolmas menuai kritik dari Pemuda Lira Provinsi Bengkulu. Menurut Humas Pemuda Lira, Dinan, pemberitaan yang dilakukan oleh media tersebut terlalu tendensius dan tidak sesuai dengan fakta. Judul berita "Tegur Keras Indikasi Tebang Pilih, Hakim Tipikor Sebut Ketua DPRD dan Bupati Patut Jadi Tersangka Baru Kasus Rasuah Rohidin Mersyah" dianggap tidak akurat dan memancing opini publik yang tidak tepat.
Dinan menilai bahwa pemberitaan tersebut tidak sesuai dengan apa yang disampaikan oleh hakim dalam persidangan. "Ketua Majelis Hakim Tipikor, Faisol hanya menanyakan dalam dakwaan banyak yang kasih uang, tapi kenapa hanya tiga yang diajukan. Itu sudah jelas, jadi jangan digoreng-goreng," tegasnya.
Dinan juga menduga bahwa pemberitaan tersebut dibacking oleh seseorang yang memiliki kepentingan tertentu, terutama dalam mengaitkan Bupati Kaur Gusril Pausi. "Patut kami curigai ada dalang dibalik pemberitaan tersebut yang sengaja untuk menjatuhkan Gusril Pausi," ungkapnya.
Pihaknya menilai bahwa pemberitaan tersebut melanggar kode etik jurnalistik dan tidak sesuai dengan prinsip-prinsip jurnalistik yang independen dan objektif. "Kami minta media tersebut tidak bersikap demikian, jadilah media yang menaati kaedah jurnalistik yang sesungguhnya," kata Dinan.
Dinan juga menambahkan bahwa tim hukum Gusril Pausi belum mau melaporkan pemberitaan tersebut dan masih menginginkan kesadaran dan pengertian dari media tersebut untuk menayangkan berita yang relevan dan sesuai fakta.
Dengan demikian, polemik pemberitaan pasca persidangan Rohidin Mersyah masih berlanjut dan menjadi perhatian publik. Apakah media Kompolmas dapat memperbaiki pemberitaannya dan menjadi lebih objektif.