Menekan Penurunan Angka Stunting, Pemda Kaur Lakukan Rembuk Stunting.
Kaur, BINTUHAN.ID- Untuk menuju generasi yang sehat dan cerdas, Pemda Kaur terus berupaya untuk menekan angka stunting di 192 desa tiga kelurahan yang berada di 15 kecamatan.
Terbaru, Pemda Kaur gelar rembuk rembuk stunting dalam aksi percepatan penurunan stunting, Selasa 19 November 2024.
Kegiatan ini dilaksanakan di Aula Bepperida Pemda Kaur, dengan tema "Intervensi Stunting dengan Tuntas Menuju Generasi Kaur Sehat dan Cerdas.
Acara ini dihadiri pejabat pemerintah, akademisi, masyarakat, swasta dan media. ini menunjukkan komitmen bersama untuk mengatasi permasalahan stunting di Kabupaten Kaur.
Adapun bahasan dalam kegiatan ini , pentingnya penguatan kelembagaan. Tujuannya, kelembagaan dan koordinasi percepatan penurunan stunting di Kabupaten Kaur masih lemah dan perlu diberdayakan.
Serta efektivitas program intervensi, supaya intervensi gizi spesifik dan sensitif belum sepenuhnya konvergen dan efektif.
Juga tentang kebijakan stunting dalam dokrenda. Dengan maksud, kebijakan penurunan stunting belum sepenuhnya masuk dalam dokumen perencanaan daerah (RPJMD dan RKPD).
Tidak luput juga dibahas, peningkatan kapasitas pelaksana program di daerah masih terbatas dari sisi pengetahuan dan ketrampilan.
Bertujuan untuk kualitas, pengelolaan, dan penggunaan data terkait stunting masih terbatas.
Serta perubahan perilaku masyarakat belum sepenuhnya sejalan dengan upaya penurunan stunting, dan dukungan sosial masih rendah
Perlu dipahami, stunting merupakan masalah gagal tumbuh pada anak usia bawah lima tahun (Balita) akibat kekurangan gizi kronis, infeksi berulang, dan psikososial yang tidak memadai. Inilah yang menjadi fokus utama dalam rembuk yang digelar Pemda Kaur.
Kepala Bapperida Kaur, Dr. Ir. Hifthario Syahputra, ST., M.SI. IPM, ASEAN Eng, APEC ER menyampaikan, stunting tidak hanya menghambat pertumbuhan fisik anak saja.
Tetapi juga berdampak pada perkembangan otak dan kemampuan belajar, yang pada akhirnya dapat mempengaruhi prestasi sekolah.
Berdasarkan data, prevalensi stunting di Kabupaten Kaur justru mengalami peningkatan dalam tiga tahun terakhir.
Pada tahun 2022 angka stunting 12,4%, tapi pada tahun 2023 prevalensi stunting naik 14,3%. Kondisi ini menjadi alarm bagi semua pihak untuk bergerak bersama dalam upaya percepatan penurunan stunting.
“Kenaikan angka stunting ini harus menjadi perhatian serius, jangan sampai persoalan ini terus berlanjut. Harus diatasi sesegera mungkin, karena ini menyangkut perkembangan Kaur ke depan,” ujarnya.
Tambahnya, rembuk ini menjadi wadah untuk membahas strategi dan langkah konkret dalam menurunkan angka stunting. Lima pilar utama yang menjadi fokus dalam percepatan penurunan stunting, yaitu komitmen dan visi kepemimpinan,komunikasi perubahan perilaku dan pemberdayaan masyarakat, konvergensi spesifik dan intervensi sensitif, ketahanan pangan dan gizi, serta sistem, data, informasi, riset, dan inovasi, menjadi bahan diskusi yang mendalam.
“Mari kita bergerak cepat, semua harus melibatkan diri dengan maksimal. Supaya persoalan ini bisa diatasi dengan tuntas, jangan sampai lengah. mari kita laksanakan tugas dan fungsi dalam visi misi pengatasan stunting ini dengan sebaik – baiknya,” tutupnya.
Satgas Stunting Provinsi Bengkulu Nurcahyadi Siddiq memaparkan, kondisi terkini stunting di Provinsi Bengkulu mengalami penurunan. Tapi sayangnya, Kabupaten Kaur justru menunjukkan tren yang mengkhawatirkan.
Nurcahyadi menekankan pentingnya kolaborasi dan sinergi lintas sektor untuk mengatasi permasalahan stunting.
“Saya berharap rembuk stunting ini dapat melahirkan komitmen bersama dan langkah nyata dalam percepatan penurunan stunting di Kabupaten Kaur. Dengan melibatkan berbagai pihak dan mengoptimalkan peran masing-masing. Supaya generasi penerus di Kabupaten Kaur dapat tumbuh sehat dan cerdas, serta memiliki masa depan yang cerah,” tuntasnya. (*)
Pewarta : Kak Cik